Menit ke-67. Estadio Azteca, Mexico City.
Roberto Alvarado melepaskan umpan silang ke tiang jauh. Raúl Jiménez bergerak masuk ke kotak penalti, melompat, lalu menyundul bola ke gawang.
GOL!
Puluhan ribu penonton bersorak. Rekan-rekannya berlari menghampiri. Namun sebelum larut dalam perayaan, Jiménez lebih dulu menatap ke langit, memejamkan mata, lalu menangis. Itu bukan sekadar gol bagi Meksiko. Bukan sekadar gol pembuka di Piala Dunia 2026. Itu adalah gol Piala Dunia pertama dalam karier Raúl Jiménez setelah tiga edisi turnamen tanpa gol, cedera yang hampir merenggut kariernya, dan sebuah janji yang akhirnya ditepati.
Tiga Piala Dunia, Nol Gol
Raúl Jiménez bukan pemain sembarangan. Sebelum Piala Dunia 2026, Jiménez sudah mencetak 45 gol dalam 124 penampilan bersama tim nasional Meksiko. Saat itu, ia pernah berada di peringkat ketiga pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah El Tri. Namun di Piala Dunia, keberuntungan tidak berpihak padanya, seolah ada tembok tidak kasat mata yang menghalanginya.
Total dari tiga Piala Dunia, Jiménez hanya bermain 116 menit dan tidak pernah mencetak gol.
Jiménez mengakuinya dengan jujur, "saya sudah bermain di tiga Piala Dunia, dan semuanya tidak berjalan sebaik yang saya harapkan."
Malam yang Hampir Mengakhiri Segalanya
29 November 2020. Emirates Stadium, London.
Di menit kelima pertandingan Wolverhampton vs Arsenal, Jiménez melompat berebut bola dan bertabrakan kepala dengan David Luiz. Ia langsung terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Tim medis bergegas masuk ke lapangan dan memberi penanganan darurat. Setelah sepuluh menit berlalu, Jiménez dibawa keluar dengan tandu dan dilarikan ke rumah sakit menggunakan helikopter.
Hasil pemeriksaan menunjukkan fraktur tulang tengkorak dan pendarahan di otak, cedera yang nyaris mengakhiri kariernya. Malam itu, pembicaraan tidak lagi soal gol, statistik, atau performa. Banyak orang hanya berharap ia bisa selamat. Untungnya, operasi darurat berjalan lancar. Dengan kondisinya yang kritis itu, dokter menyebutnya sebagai keajaiban.
Selama delapan bulan Jiménez tidak diperbolehkan berlatih bersama pemain lain, dilarang masuk kotak penalti, dan wajib mengenakan helm pelindung khusus. Banyak yang meragukan apakah seorang Raúl Jiménez akan kembali bermain. Namun, Jiménez tidak pernah meragukan dirinya sendiri.
"Saya tidak pernah berpikir untuk berhenti bermain. Ada kemungkinan ke sana, tapi saya selalu yakin saya akan kembali," katanya kepada Sky Sports.
Sembilan bulan kemudian, ia kembali ke lapangan dengan ikat kepala pelindung yang sejak saat itu tidak pernah lepas dari kepalanya.
Sebuah Janji dari Sang Ayah
Di tengah masa-masa sulit itu, ada satu orang yang selalu mendukung: ayahnya, Raúl Jiménez Vega. Ia yang menemani perjalanan putranya dari liga lokal Meksiko hingga Liga Premier Inggris. Sang ayah juga yang membela Jiménez ketika media mengkritik penampilannya di Qatar 2022, dan selalu yakin bahwa putranya akan mendapat kesempatan lagi.
Saat Meksiko juara Copa Emas 2025, Jiménez kembali menjadi bagian penting tim nasional. Saat itulah sang ayah menyampaikan satu harapan sederhana kepada media, “yang kurang tinggal satu gol di Piala Dunia. Itu saja yang masih kurang."
Bukan trofi, bukan pula penghargaan individu, melainkan hanya satu gol di Piala Dunia.
Sayangnya, sebelum hal itu terjadi, Raúl Jiménez Vega meninggal dunia karena kanker pankreas, tepat tiga bulan sebelum Piala Dunia 2026 dimulai.
Gol Pertama Raúl Jiménez di Piala Dunia 2026
Pada 11 Juni 2026 (waktu Meksiko), untuk pertama kalinya dalam empat keikutsertaan di Piala Dunia, Raúl Jiménez dipercaya menjadi starter. Momen yang ditunggu selama bertahun-tahun akhirnya datang di menit ke-67.
Umpan silang Roberto Alvarado datang ke tiang jauh. Jiménez bergerak, melompat, dan menyambut bola itu dengan sundulan. Dengan kepala. Dengan bagian tubuh yang pernah retak dan membawanya ke meja operasi. Gol.
Di tengah sorak sorai lebih dari 80.000 penonton di Estadio Azteca, Jiménez berlari ke sudut lapangan, berdiri diam sejenak, menatap langit, memejamkan mata, dan menangis.
Gol ke-46 untuk tim nasional Meksiko. Gol Piala Dunia pertama dalam kariernya. Dan hampir pasti, gol paling bermakna dalam hidupnya, untuk seseorang yang tidak bisa menyaksikannya, tapi sudah tahu bahwa janji itu pasti akan ditepati. Janji yang membutuhkan empat Piala Dunia, ribuan hari penantian, cedera yang hampir mengakhiri karier, dan kehilangan yang tidak tergantikan.
Malam itu, Raúl Jiménez tidak hanya mencetak gol pertamanya di Piala Dunia. Ia menyelesaikan sebuah kisah yang telah dimulai bertahun-tahun sebelumnya.
cek post-nya di instagram kita!
Bagikan Artikel
Sebarkan informasi ini ke teman-teman Anda
Menit ke-67. Estadio Azteca, Mexico City.
Roberto Alvarado melepaskan umpan silang ke tiang jauh. Raúl Jiménez bergerak masuk ke kotak penalti, melompat, lalu menyundul bola ke gawang.
GOL!
Puluhan ribu penonton bersorak. Rekan-rekannya berlari menghampiri. Namun sebelum larut dalam perayaan, Jiménez lebih dulu menatap ke langit, memejamkan mata, lalu menangis. Itu bukan sekadar gol bagi Meksiko. Bukan sekadar gol pembuka di Piala Dunia 2026. Itu adalah gol Piala Dunia pertama dalam karier Raúl Jiménez setelah tiga edisi turnamen tanpa gol, cedera yang hampir merenggut kariernya, dan sebuah janji yang akhirnya ditepati.
Tiga Piala Dunia, Nol Gol
Raúl Jiménez bukan pemain sembarangan. Sebelum Piala Dunia 2026, Jiménez sudah mencetak 45 gol dalam 124 penampilan bersama tim nasional Meksiko. Saat itu, ia pernah berada di peringkat ketiga pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah El Tri. Namun di Piala Dunia, keberuntungan tidak berpihak padanya, seolah ada tembok tidak kasat mata yang menghalanginya.
Total dari tiga Piala Dunia, Jiménez hanya bermain 116 menit dan tidak pernah mencetak gol.
Jiménez mengakuinya dengan jujur, "saya sudah bermain di tiga Piala Dunia, dan semuanya tidak berjalan sebaik yang saya harapkan."
Malam yang Hampir Mengakhiri Segalanya
29 November 2020. Emirates Stadium, London.
Di menit kelima pertandingan Wolverhampton vs Arsenal, Jiménez melompat berebut bola dan bertabrakan kepala dengan David Luiz. Ia langsung terjatuh dan tidak sadarkan diri.
Tim medis bergegas masuk ke lapangan dan memberi penanganan darurat. Setelah sepuluh menit berlalu, Jiménez dibawa keluar dengan tandu dan dilarikan ke rumah sakit menggunakan helikopter.
Hasil pemeriksaan menunjukkan fraktur tulang tengkorak dan pendarahan di otak, cedera yang nyaris mengakhiri kariernya. Malam itu, pembicaraan tidak lagi soal gol, statistik, atau performa. Banyak orang hanya berharap ia bisa selamat. Untungnya, operasi darurat berjalan lancar. Dengan kondisinya yang kritis itu, dokter menyebutnya sebagai keajaiban.
Selama delapan bulan Jiménez tidak diperbolehkan berlatih bersama pemain lain, dilarang masuk kotak penalti, dan wajib mengenakan helm pelindung khusus. Banyak yang meragukan apakah seorang Raúl Jiménez akan kembali bermain. Namun, Jiménez tidak pernah meragukan dirinya sendiri.
"Saya tidak pernah berpikir untuk berhenti bermain. Ada kemungkinan ke sana, tapi saya selalu yakin saya akan kembali," katanya kepada Sky Sports.
Sembilan bulan kemudian, ia kembali ke lapangan dengan ikat kepala pelindung yang sejak saat itu tidak pernah lepas dari kepalanya.
Sebuah Janji dari Sang Ayah
Di tengah masa-masa sulit itu, ada satu orang yang selalu mendukung: ayahnya, Raúl Jiménez Vega. Ia yang menemani perjalanan putranya dari liga lokal Meksiko hingga Liga Premier Inggris. Sang ayah juga yang membela Jiménez ketika media mengkritik penampilannya di Qatar 2022, dan selalu yakin bahwa putranya akan mendapat kesempatan lagi.
Saat Meksiko juara Copa Emas 2025, Jiménez kembali menjadi bagian penting tim nasional. Saat itulah sang ayah menyampaikan satu harapan sederhana kepada media, “yang kurang tinggal satu gol di Piala Dunia. Itu saja yang masih kurang."
Bukan trofi, bukan pula penghargaan individu, melainkan hanya satu gol di Piala Dunia.
Sayangnya, sebelum hal itu terjadi, Raúl Jiménez Vega meninggal dunia karena kanker pankreas, tepat tiga bulan sebelum Piala Dunia 2026 dimulai.
Gol Pertama Raúl Jiménez di Piala Dunia 2026
Pada 11 Juni 2026 (waktu Meksiko), untuk pertama kalinya dalam empat keikutsertaan di Piala Dunia, Raúl Jiménez dipercaya menjadi starter. Momen yang ditunggu selama bertahun-tahun akhirnya datang di menit ke-67.
Umpan silang Roberto Alvarado datang ke tiang jauh. Jiménez bergerak, melompat, dan menyambut bola itu dengan sundulan. Dengan kepala. Dengan bagian tubuh yang pernah retak dan membawanya ke meja operasi. Gol.
Di tengah sorak sorai lebih dari 80.000 penonton di Estadio Azteca, Jiménez berlari ke sudut lapangan, berdiri diam sejenak, menatap langit, memejamkan mata, dan menangis.
Gol ke-46 untuk tim nasional Meksiko. Gol Piala Dunia pertama dalam kariernya. Dan hampir pasti, gol paling bermakna dalam hidupnya, untuk seseorang yang tidak bisa menyaksikannya, tapi sudah tahu bahwa janji itu pasti akan ditepati. Janji yang membutuhkan empat Piala Dunia, ribuan hari penantian, cedera yang hampir mengakhiri karier, dan kehilangan yang tidak tergantikan.
Malam itu, Raúl Jiménez tidak hanya mencetak gol pertamanya di Piala Dunia. Ia menyelesaikan sebuah kisah yang telah dimulai bertahun-tahun sebelumnya.
cek post-nya di instagram kita!
Bagikan Artikel
Sebarkan informasi ini ke teman-teman Anda