Istilah “Tahun Baru Islam” tentu sudah sangat terdengar di tengah masyarakat. Namun, pernahkah terlintas pertanyaan: sejak kapan Islam punya tahun baru? Siapa yang memutuskannya? Dan kenapa tanggalnya bisa bergeser setiap tahun? Ternyata, di balik 1 Muharram yang kita kenal hari ini, tersimpan sejarah yang jauh lebih kompleks dari yang diajarkan di buku pelajaran. Jawabannya menyentuh politik kenegaraan, filsafat waktu, hingga strategi budaya yang masih kita rasakan sampai sekarang.
Sebelum masuk ke fakta-faktanya, ada satu hal yang perlu diluruskan. Istilah "Tahun Baru Islam" adalah sebutan populer dan kebutuhan administratif, bukan istilah yang berasal dari syariat Islam. Tidak ada perintah khusus dalam Al-Qur'an atau hadis yang mewajibkan umat Islam merayakan 1 Muharram. Tradisi yang ada justru menekankan keutamaan bulan Muharram sebagai salah satu dari empat Asyhurul Hurum (bulan yang dimuliakan). Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan refleksi diri, bukan mengadakan pesta pora. Secara historis, 1 Muharram lebih dimaknai sebagai momen perpindahan spiritual. Sebuah fase untuk berhijrah dari kondisi diri yang buruk menuju kualitas hidup yang lebih baik.
Karena 1 Muharram adalah hari pertama dalam kalender Hijriah, yaitu: sistem penanggalan resmi umat Islam. Logikanya sama seperti 1 Januari di kalender Masehi yang menandai awal tahun baru. Meski lahirnya kalender Hijriah didorong oleh kebutuhan birokrasi, identitas Islamnya tetap melekat kuat. Acuan waktu yang dipilih bukan peristiwa astronomi atau siklus alam, melainkan momen paling mendefinisikan umat Islam sebagai komunitas: peristiwa hijrah.
Itulah kenapa disebut Tahun Baru Islam, bukan karena ada perayaan yang diwajibkan, tapi karena seluruh sistemnya dibangun di atas fondasi sejarah Islam.
Banyak orang mengira kalender Hijriah sudah digunakan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Faktanya, sistem penanggalan ini baru resmi ditetapkan sekitar 17 tahun setelah Nabi wafat, tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 637 Masehi.
Pemicu utamanya pun bukan keputusan spiritual, melainkan masalah birokrasi pemerintahan yang mendesak. Kisah ini bermula saat Gubernur Basra, Abu Musa Al-Asy'ari, kebingungan karena kerap menerima surat resmi dari pusat tanpa keterangan tahun yang jelas, sehingga pengarsipan negara menjadi kacau.
Menanggapi kendala tersebut, Khalifah Umar segera mengumpulkan para sahabat untuk merancang kalender Islam. Di sinilah terjadi dua keputusan penting yang menyelaraskan hitungan tahun dan bulan:
Atas usulan Ali bin Abi Thalib, forum sepakat memilih peristiwa hijrah sebagai patokan tahun pertama. Alasan utamanya karena hijrah menjadi momen ketika komunitas Islam untuk pertama kalinya berdiri mandiri sebagai sebuah entitas sosial dan politik yang berdaulat.
Sistemnya sendiri tetap menggunakan sistem lunar (bulan) karena masyarakat Arab sebenarnya sudah sangat akrab dengan penanggalan ini sejak masa pra-Islam. Khalifah Umar tinggal mengadopsi tradisi budaya tersebut, lalu menyempurnakannya.
Banyak yang mengira Muharram dipilih karena peristiwa hijrah fisik terjadi di bulan itu. Padahal, secara historis, perjalanan hijrah fisik Rasulullah terjadi pada bulan Rabiulawal.
Lantas, mengapa bulan Muharram yang tetap dijadikan bulan pembuka?
Bulan ini dipilih atas usulan Utsman bin Affan, karena Muharram merupakan bulan muqaddimah atau permulaan dari munculnya niat untuk berhijrah. Secara kronologis, keputusan untuk berhijrah lahir setelah sejumlah sahabat menyatakan sumpah setia kepada Nabi di penghujung bulan Zulhijah. Bulan yang datang persis setelah Zulhijah adalah Muharram.
Dengan kata lain, Muharram bukanlah bulan terjadinya peristiwa fisik hijrah, melainkan bulan tempat lahirnya tekad dan keputusan untuk berubah. Sebuah distingsi sejarah yang sangat filosofis: kalender Islam ternyata tidak dihitung dari aksi fisiknya, melainkan dimulai sejak momen pemikiran dan ketetapan hati itu dibuat.
Bagi masyarakat di Pulau Jawa, momen 1 Muharram sudah sangat identik dengan peringatan malam 1 Suro yang sarat akan nuansa sakral. Namun, jika ditelusuri dari aspek linguistik, kata Suro sendiri sebenarnya bukan berasal dari bahasa Jawa asli.
Kata tersebut diserap dari bahasa Arab, yaitu Asyura, yang memiliki arti "kesepuluh". Istilah ini merujuk langsung pada tanggal 10 Muharram yang memiliki banyak keutamaan sejarah dalam ajaran Islam. Melalui pelafalan masyarakat Jawa, kata Asyura lambat laun bergeser menjadi Suro dan menetap menjadi bagian dari khazanah budaya lokal.
Tradisi peringatan 1 Suro juga tidak muncul secara alami begitu saja tanpa pencetus. Momentum ini memiliki tanggal lahir yang sangat spesifik dalam catatan sejarah, yaitu pada 8 Juli 1633 Masehi.
Pada tanggal tersebut, Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Kesultanan Mataram Islam, secara resmi mengeluarkan kebijakan besar. Beliau menggabungkan Kalender Saka (berbasis matahari yang digunakan masyarakat Hindu-Jawa) dengan Kalender Hijriah (berbasis bulan) menjadi satu sistem baru bernama Kalender Jawa.
Langkah berani ini menjadi titik awal meleburnya tradisi Suro yang masih dijalankan oleh masyarakat hingga saat ini.
Alasan Sultan Agung melakukan reformasi penanggalan ini murni bersifat geopolitis dan strategis. Pada masa itu, wilayah kekuasaan Mataram Islam terbagi ke dalam dua kelompok masyarakat yang menggunakan sistem waktu berbeda. Kaum santri di kawasan pesisir setia menggunakan kalender Hijriah, sementara masyarakat kejawen di daerah pedalaman tetap memakai kalender Saka.
Selama kedua kelompok tersebut memiliki sistem waktu yang tidak sinkron, pemerintah mengalami kesulitan besar dalam menyatukan rakyat, baik secara kultural maupun administratif. Masalah ini persis seperti kendala surat-menyurat yang dihadapi oleh Khalifah Umar bin Khattab berabad-abad sebelumnya.
Solusi yang diambil oleh Sultan Agung tergolong sangat cerdas. Beliau tetap mempertahankan angka tahun Saka yang sedang berjalan (tidak meresetnya dari angka satu) agar masyarakat kejawen tidak merasa tradisi leluhurnya dihapus. Namun, mekanisme perhitungannya diubah total mengikuti ritme lunar (bulan) milik Islam.
Hasil dari keputusan politik tersebut dapat kita saksikan hingga hari ini. Tradisi malam 1 Suro—seperti ritual mubeng beteng (mengitari benteng), jamas pusaka (pencucian benda pusaka), dan tirakatan—merupakan hasil perpaduan budaya yang unik. Nilai-nilai tirakatan dan puasa Asyura berakar dari ajaran Islam, sedangkan prosesi fisik seperti mubeng betengmerupakan warisan tradisi Jawa kuno.
Di lingkungan Keraton Surakarta sendiri, pelaksanaan peringatan Satu Suro secara turun-temurun ditujukan sebagai ruang untuk bersyukur, tafakur, dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT. Langkah akulturasi yang dirancang secara sadar oleh seorang raja 400 tahun lalu ini terbukti sukses menyatukan masyarakat tanpa memicu konflik horizontal.
Dari tiga fakta di atas, ada satu benang merah yang menarik: setiap lapisan sejarah 1 Muharram selalu berkaitan dengan momen transisi dan keputusan besar.
Umar bin Khattab membuat kalender untuk menjaga keteraturan umat yang sedang berkembang. Para sahabat memilih hijrah — bukan kelahiran, bukan kematian Nabi — sebagai titik awal waktu, karena hijrah adalah simbol keberanian untuk berubah.
Sultan Agung menyatukan dua kalender untuk menyatukan dua kelompok yang berseberangan. Semua keputusan besar itu terjadi di, atau berakar dari, bulan Muharram. Meski masing-masing didorong oleh kepentingan yang berbeda, semuanya meninggalkan jejak yang masih bisa kita rasakan hari ini.
Maka kalau ada satu hal yang paling tepat dilakukan saat Tahun Baru Islam, mungkin bukan pesta kembang api. Justru yang paling relevan adalah berhenti sejenak dan bertanya: perubahan apa yang sudah terlalu lama ditunda?
Seperti Umar yang memutuskan bertindak ketika sistem kacau, seperti para sahabat yang memilih niat sebagai titik mulai, dan seperti Sultan Agung yang menyatukan perbedaan tanpa menghapus identitas lokal, semuanya bergerak dari satu keputusan.
Waktu dalam Islam pada akhirnya tidak sekadar dihitung dari perputaran benda langit, melainkan diukur dari keberanian manusia untuk berpindah menuju kondisi yang lebih baik. Maka: hijrah apa yang sedang ditunda?
Referensi:
M. Solahudin. Sejarah Lahirnya Kalender Hijriyah (Al-Taqwîm Al-Hijrî). Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009. Untitled
Muh. Rasywan Syarif & Naif. Konsolidasi Metodologis Kalender Islam Internasional: Meneladani Intelektual Umar Bin Khattab dan Julius Caesar. Jurnal Bimas Islam, Vol. 10, No. 3, 2017. Untitled
Diandini. Akulturasi Islam dan Budaya Jawa pada Masa Kekuasaan Sultan Agung di Kerajaan Mataram Islam. Prosiding KIMU, UNISSULA, 2022. Untitled
Ahmad Zarkasih. Sejarah Pembentukan Kalender Hijriyah. Rumah Fiqih, 2018.
Risma Aryanti & Ashif Az Zafi. Tradisi Satu Suro Di Tanah Jawa Dalam Perspektif Hukum Islam. AL IMAN: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan, Vol. 4, No. 2, 2020. Untitled
Dian Uswatina. Akulturasi Budaya Jawa dan Islam: Kajian Budaya Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Kraton Surakarta Hadiningrat. Tesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2016. Untitled
Bagikan Artikel
Sebarkan informasi ini ke teman-teman Anda
Istilah “Tahun Baru Islam” tentu sudah sangat terdengar di tengah masyarakat. Namun, pernahkah terlintas pertanyaan: sejak kapan Islam punya tahun baru? Siapa yang memutuskannya? Dan kenapa tanggalnya bisa bergeser setiap tahun? Ternyata, di balik 1 Muharram yang kita kenal hari ini, tersimpan sejarah yang jauh lebih kompleks dari yang diajarkan di buku pelajaran. Jawabannya menyentuh politik kenegaraan, filsafat waktu, hingga strategi budaya yang masih kita rasakan sampai sekarang.
Sebelum masuk ke fakta-faktanya, ada satu hal yang perlu diluruskan. Istilah "Tahun Baru Islam" adalah sebutan populer dan kebutuhan administratif, bukan istilah yang berasal dari syariat Islam. Tidak ada perintah khusus dalam Al-Qur'an atau hadis yang mewajibkan umat Islam merayakan 1 Muharram. Tradisi yang ada justru menekankan keutamaan bulan Muharram sebagai salah satu dari empat Asyhurul Hurum (bulan yang dimuliakan). Pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan refleksi diri, bukan mengadakan pesta pora. Secara historis, 1 Muharram lebih dimaknai sebagai momen perpindahan spiritual. Sebuah fase untuk berhijrah dari kondisi diri yang buruk menuju kualitas hidup yang lebih baik.
Karena 1 Muharram adalah hari pertama dalam kalender Hijriah, yaitu: sistem penanggalan resmi umat Islam. Logikanya sama seperti 1 Januari di kalender Masehi yang menandai awal tahun baru. Meski lahirnya kalender Hijriah didorong oleh kebutuhan birokrasi, identitas Islamnya tetap melekat kuat. Acuan waktu yang dipilih bukan peristiwa astronomi atau siklus alam, melainkan momen paling mendefinisikan umat Islam sebagai komunitas: peristiwa hijrah.
Itulah kenapa disebut Tahun Baru Islam, bukan karena ada perayaan yang diwajibkan, tapi karena seluruh sistemnya dibangun di atas fondasi sejarah Islam.
Banyak orang mengira kalender Hijriah sudah digunakan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Faktanya, sistem penanggalan ini baru resmi ditetapkan sekitar 17 tahun setelah Nabi wafat, tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab sekitar tahun 637 Masehi.
Pemicu utamanya pun bukan keputusan spiritual, melainkan masalah birokrasi pemerintahan yang mendesak. Kisah ini bermula saat Gubernur Basra, Abu Musa Al-Asy'ari, kebingungan karena kerap menerima surat resmi dari pusat tanpa keterangan tahun yang jelas, sehingga pengarsipan negara menjadi kacau.
Menanggapi kendala tersebut, Khalifah Umar segera mengumpulkan para sahabat untuk merancang kalender Islam. Di sinilah terjadi dua keputusan penting yang menyelaraskan hitungan tahun dan bulan:
Atas usulan Ali bin Abi Thalib, forum sepakat memilih peristiwa hijrah sebagai patokan tahun pertama. Alasan utamanya karena hijrah menjadi momen ketika komunitas Islam untuk pertama kalinya berdiri mandiri sebagai sebuah entitas sosial dan politik yang berdaulat.
Sistemnya sendiri tetap menggunakan sistem lunar (bulan) karena masyarakat Arab sebenarnya sudah sangat akrab dengan penanggalan ini sejak masa pra-Islam. Khalifah Umar tinggal mengadopsi tradisi budaya tersebut, lalu menyempurnakannya.
Banyak yang mengira Muharram dipilih karena peristiwa hijrah fisik terjadi di bulan itu. Padahal, secara historis, perjalanan hijrah fisik Rasulullah terjadi pada bulan Rabiulawal.
Lantas, mengapa bulan Muharram yang tetap dijadikan bulan pembuka?
Bulan ini dipilih atas usulan Utsman bin Affan, karena Muharram merupakan bulan muqaddimah atau permulaan dari munculnya niat untuk berhijrah. Secara kronologis, keputusan untuk berhijrah lahir setelah sejumlah sahabat menyatakan sumpah setia kepada Nabi di penghujung bulan Zulhijah. Bulan yang datang persis setelah Zulhijah adalah Muharram.
Dengan kata lain, Muharram bukanlah bulan terjadinya peristiwa fisik hijrah, melainkan bulan tempat lahirnya tekad dan keputusan untuk berubah. Sebuah distingsi sejarah yang sangat filosofis: kalender Islam ternyata tidak dihitung dari aksi fisiknya, melainkan dimulai sejak momen pemikiran dan ketetapan hati itu dibuat.
Bagi masyarakat di Pulau Jawa, momen 1 Muharram sudah sangat identik dengan peringatan malam 1 Suro yang sarat akan nuansa sakral. Namun, jika ditelusuri dari aspek linguistik, kata Suro sendiri sebenarnya bukan berasal dari bahasa Jawa asli.
Kata tersebut diserap dari bahasa Arab, yaitu Asyura, yang memiliki arti "kesepuluh". Istilah ini merujuk langsung pada tanggal 10 Muharram yang memiliki banyak keutamaan sejarah dalam ajaran Islam. Melalui pelafalan masyarakat Jawa, kata Asyura lambat laun bergeser menjadi Suro dan menetap menjadi bagian dari khazanah budaya lokal.
Tradisi peringatan 1 Suro juga tidak muncul secara alami begitu saja tanpa pencetus. Momentum ini memiliki tanggal lahir yang sangat spesifik dalam catatan sejarah, yaitu pada 8 Juli 1633 Masehi.
Pada tanggal tersebut, Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Kesultanan Mataram Islam, secara resmi mengeluarkan kebijakan besar. Beliau menggabungkan Kalender Saka (berbasis matahari yang digunakan masyarakat Hindu-Jawa) dengan Kalender Hijriah (berbasis bulan) menjadi satu sistem baru bernama Kalender Jawa.
Langkah berani ini menjadi titik awal meleburnya tradisi Suro yang masih dijalankan oleh masyarakat hingga saat ini.
Alasan Sultan Agung melakukan reformasi penanggalan ini murni bersifat geopolitis dan strategis. Pada masa itu, wilayah kekuasaan Mataram Islam terbagi ke dalam dua kelompok masyarakat yang menggunakan sistem waktu berbeda. Kaum santri di kawasan pesisir setia menggunakan kalender Hijriah, sementara masyarakat kejawen di daerah pedalaman tetap memakai kalender Saka.
Selama kedua kelompok tersebut memiliki sistem waktu yang tidak sinkron, pemerintah mengalami kesulitan besar dalam menyatukan rakyat, baik secara kultural maupun administratif. Masalah ini persis seperti kendala surat-menyurat yang dihadapi oleh Khalifah Umar bin Khattab berabad-abad sebelumnya.
Solusi yang diambil oleh Sultan Agung tergolong sangat cerdas. Beliau tetap mempertahankan angka tahun Saka yang sedang berjalan (tidak meresetnya dari angka satu) agar masyarakat kejawen tidak merasa tradisi leluhurnya dihapus. Namun, mekanisme perhitungannya diubah total mengikuti ritme lunar (bulan) milik Islam.
Hasil dari keputusan politik tersebut dapat kita saksikan hingga hari ini. Tradisi malam 1 Suro—seperti ritual mubeng beteng (mengitari benteng), jamas pusaka (pencucian benda pusaka), dan tirakatan—merupakan hasil perpaduan budaya yang unik. Nilai-nilai tirakatan dan puasa Asyura berakar dari ajaran Islam, sedangkan prosesi fisik seperti mubeng betengmerupakan warisan tradisi Jawa kuno.
Di lingkungan Keraton Surakarta sendiri, pelaksanaan peringatan Satu Suro secara turun-temurun ditujukan sebagai ruang untuk bersyukur, tafakur, dan taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT. Langkah akulturasi yang dirancang secara sadar oleh seorang raja 400 tahun lalu ini terbukti sukses menyatukan masyarakat tanpa memicu konflik horizontal.
Dari tiga fakta di atas, ada satu benang merah yang menarik: setiap lapisan sejarah 1 Muharram selalu berkaitan dengan momen transisi dan keputusan besar.
Umar bin Khattab membuat kalender untuk menjaga keteraturan umat yang sedang berkembang. Para sahabat memilih hijrah — bukan kelahiran, bukan kematian Nabi — sebagai titik awal waktu, karena hijrah adalah simbol keberanian untuk berubah.
Sultan Agung menyatukan dua kalender untuk menyatukan dua kelompok yang berseberangan. Semua keputusan besar itu terjadi di, atau berakar dari, bulan Muharram. Meski masing-masing didorong oleh kepentingan yang berbeda, semuanya meninggalkan jejak yang masih bisa kita rasakan hari ini.
Maka kalau ada satu hal yang paling tepat dilakukan saat Tahun Baru Islam, mungkin bukan pesta kembang api. Justru yang paling relevan adalah berhenti sejenak dan bertanya: perubahan apa yang sudah terlalu lama ditunda?
Seperti Umar yang memutuskan bertindak ketika sistem kacau, seperti para sahabat yang memilih niat sebagai titik mulai, dan seperti Sultan Agung yang menyatukan perbedaan tanpa menghapus identitas lokal, semuanya bergerak dari satu keputusan.
Waktu dalam Islam pada akhirnya tidak sekadar dihitung dari perputaran benda langit, melainkan diukur dari keberanian manusia untuk berpindah menuju kondisi yang lebih baik. Maka: hijrah apa yang sedang ditunda?
Referensi:
M. Solahudin. Sejarah Lahirnya Kalender Hijriyah (Al-Taqwîm Al-Hijrî). Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009. Untitled
Muh. Rasywan Syarif & Naif. Konsolidasi Metodologis Kalender Islam Internasional: Meneladani Intelektual Umar Bin Khattab dan Julius Caesar. Jurnal Bimas Islam, Vol. 10, No. 3, 2017. Untitled
Diandini. Akulturasi Islam dan Budaya Jawa pada Masa Kekuasaan Sultan Agung di Kerajaan Mataram Islam. Prosiding KIMU, UNISSULA, 2022. Untitled
Ahmad Zarkasih. Sejarah Pembentukan Kalender Hijriyah. Rumah Fiqih, 2018.
Risma Aryanti & Ashif Az Zafi. Tradisi Satu Suro Di Tanah Jawa Dalam Perspektif Hukum Islam. AL IMAN: Jurnal Keislaman dan Kemasyarakatan, Vol. 4, No. 2, 2020. Untitled
Dian Uswatina. Akulturasi Budaya Jawa dan Islam: Kajian Budaya Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Kraton Surakarta Hadiningrat. Tesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2016. Untitled
Bagikan Artikel
Sebarkan informasi ini ke teman-teman Anda